DISKOMINFO LUWU TIMUR
PSN Lampia Buka Harapan Lapangan Kerja, Aparat Kawal Proses Land Clearing
Kitasulsel—Luwu Timur — Kegiatan pembersihan lahan (land clearing) proyek strategis nasional (PSN) di kawasan Lampia, Kecamatan Malili, Rabu (29/4/2026), menjadi penanda awal terbukanya peluang kerja yang lebih luas bagi masyarakat Luwu Timur.
Sejak pagi, aparat gabungan Satpol-PP, TNI, dan Polri telah bersiaga mengamankan jalannya kegiatan. Pengamanan dipimpin langsung oleh Kasat Satpol-PP Luwu Timur, dengan fokus menjaga stabilitas di lapangan agar proses pembangunan dapat berjalan lancar.
Di tengah pengamanan tersebut, sempat terjadi ketegangan saat sejumlah warga melakukan penolakan dan mencoba menghalangi masuknya dua unit alat berat excavator. Aksi saling dorong pun tidak terhindarkan. Namun, aparat segera mengambil langkah persuasif dengan menenangkan warga dan membuka ruang dialog di lokasi.
Pendekatan humanis yang dilakukan aparat gabungan berhasil meredam situasi. Setelah kondisi kembali kondusif, alat berat mulai beroperasi dan proses land clearing dapat dilanjutkan.
Di balik dinamika yang terjadi, kehadiran PSN di Lampia membawa harapan besar bagi masyarakat, terutama dalam hal ketersediaan lapangan kerja. Kawasan industri yang tengah dipersiapkan ini diyakini akan menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan, mulai dari tahap konstruksi hingga operasional.
Peluang ini menjadi angin segar bagi masyarakat lokal, khususnya generasi muda Luwu Timur, untuk mendapatkan pekerjaan tanpa harus meninggalkan daerahnya. Selain itu, aktivitas industri yang berkembang nantinya juga diprediksi akan mendorong tumbuhnya sektor usaha pendukung, yang secara tidak langsung membuka lebih banyak kesempatan kerja.
Kehadiran aparat dalam pengamanan bukan hanya menjaga ketertiban, tetapi juga memastikan proses pembangunan yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan sesuai rencana.
Dengan terbukanya lapangan kerja dari proyek strategis nasional ini, Lampia tidak hanya menjadi lokasi pembangunan, tetapi juga simbol harapan baru bagi masa depan ekonomi masyarakat Luwu Timur.
DISKOMINFO LUWU TIMUR
Tak Pernah Usai: Sehari Semalam Menjadi Irwan Bachri Syam
Kitasulsel—Luwutimur—Ada yang berubah dari cara sebagian masyarakat memandang seorang kepala daerah. Bukan lagi sekadar soal kebijakan, program, atau pidato resmi. Tapi tentang ketahanan—tentang bagaimana seseorang menjalani hari yang seolah tak pernah selesai.
Di Luwu Timur, nama Irwan Bachri Syam kini kerap disebut dengan nada yang lebih lirih—campuran antara kagum dan haru.
“Jaga kesehatan, Pak Bupati…”
Kalimat itu bukan sekadar sapaan. Ia lahir dari pemandangan yang berulang: seorang pemimpin yang nyaris tak punya jeda.
Pagi itu dimulai seperti biasa—rapat di gedung DPR. Agenda padat, pembahasan serius. Namun itu baru awal. Selepasnya, langkah tak berhenti. Pintu ruang kerja terbuka, tamu datang silih berganti. Wajah-wajah penuh harap, membawa persoalan, aspirasi, dan cerita.
Belum selesai satu, datang lagi yang lain.
Waktu bergulir ke siang. Di sela kesibukan, ia menyempatkan diri sholat berjamaah di masjid. Singkat, khusyuk, lalu kembali pada rutinitas: menerima tamu lagi.
Sore menjelang, langkah yang sama terulang. Sholat Ashar, lalu kembali ke kursi kerja. Tak ada tanda melambat.
“Jadi bupati itu berat… biar Pak Irwan Bachri Syam saja,” celetuk seorang warga setengah bercanda, setengah takjub.
Karena memang, tak semua orang sanggup menjalani ritme seperti itu.
Menjelang malam, agenda belum juga usai. Rapat mendadak muncul. Setelahnya, sholat Magrib di musholla. Namun alih-alih beristirahat, ia kembali menemui rombongan tamu yang telah menunggu.
Dan bahkan setelah itu—masih ada lagi.
“Pagi, siang, sore, malam… beliau terus. Tidak ada shift. Tidak ada bupati pengganti,” cerita seorang warga yang menyaksikan langsung.
Ajudan boleh bergantian. Tapi seorang bupati—tak punya “stuntman”.
Lelah? Tentu itu pertanyaan yang wajar. Tapi yang tampak justru sebaliknya: energi yang seperti tak habis.
Mungkin, bagi sebagian orang, ini bukan semata soal fisik. Ada yang melihatnya sebagai bentuk pengabdian yang lebih dalam.
“Mungkin itu kelebihan yang Allah berikan… karena beliau mengurusi begitu banyak orang,” ujar seorang warga dengan nada reflektif.
Kisah-kisah kecil seperti itu terus beredar. Tentang bagaimana satu teguran ringan soal kehadiran pegawai di waktu sholat bisa langsung mengubah suasana.
Hari itu, ketika waktu Ashar tiba, masjid nyaris tak mampu menampung jamaah.
Cukup sekali bicara—dan semua tergerak.
Sederhana, tapi mengena.
Malam kian larut. Namun bagi Irwan, hari belum benar-benar selesai. Informasi dari humas menyebutkan, esok pagi ia harus bertolak ke Makassar. Agenda baru sudah menunggu.
Artinya, waktu istirahat kembali menjadi barang langka.
Dan di tengah semua itu, masyarakat hanya bisa mengirim doa yang sederhana:
“Jaga kesehatan, Pak Bupati.”
Karena di balik jabatan yang terlihat kokoh, ada manusia yang terus berjalan, menembus batas waktu—demi mereka yang dipimpinnya.
Dan mungkin benar, menjadi bupati itu berat.
Tidak semua orang sanggup.
-
Nasional10 bulan agoAndi Syakira Harumkan Nama Sidrap, Lolos ke Panggung Utama Dangdut Academy 7 Indosiar,Bupati SAR:Kita Support Penuh!
-
3 tahun agoInformasi Tidak Berimbang,Dewan Pengurus KKS Kairo Mesir Keluarkan Rilis Kronologi Kejadian di Mesir
-
Politics2 tahun agoIndo Barometer:Isrullah Ahmad -Usman Sadik Pepet Budiman-Akbar,IBAS-Puspa Tak Terkejar
-
2 tahun agoTangis Haru Warnai Pelepasan Status ASN Hj Puspawati Husler”Tetaplah Kuat Kami Bersamamu”
-
2 tahun agoPj Gubernur Bahtiar Paparkan Rencana Pembangunan Sulsel di Depan Presiden Jokowi
-
3 tahun agoVideo Menolak Berjabat Tangan Dengan Seorang Warga Viral ,Ketua DPRD Luwu Timur Dinilai Tidak Mencerminkan Diri Sebagai Wakil Rakyat
-
3 tahun agoDari Kotamobagu, BMR Anies Bertekat Menangkan Anies Baswedan*
-
2 tahun agoIBAS Is Back: Siap Maju di Kontestasi Pilkada Luwu Timur










You must be logged in to post a comment Login