Connect with us

Sat Binmas Polres Sidrap Kunjungi Ponpes di Hari Pertama Operasi Bina Kusuma Lipu 2023,

Published

on

Kitasulsel,Sidrap — Operasi Kepolisian dengan Sandi Operasi Bina Kusuma Lipu 2023 yang di gelar Polres Sidrap kali ini menyasar Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Wahid Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidrap. Rabu (08/03/2023)

Kegiatan Ops Bina Kusuma yang di gelar jajaran Polres Sidrap ini guna mencegah tidak terjadinya pemalakan, premanisme, dan penyakit masyarakat lainnya.

Guna mendukung kegiatan operasi tersebut berjalan dengan baik, Kasat Binmas Polres Sidrap AKP Syarifuddin. HMT bersama anggota yang terlibat Ops Bina Kusuma melaksanakan giat penyuluhan di pondok pesantren

Kapolres Sidrap AKBP Erwin Syah. S.I.K melalui Kasat Binmas AKP Syarifuddin. HMT saat di konfirmasi mengungkapkan bahwa Pondok Pesantren memang menjadi salah satu sasaran dalam pelaksanaan Ops Bina Kusuma hari ini.

“Namun dalam pelaksanaannya dengan melakukan upaya preventif atau pencegahan, jadi dalam pelaksanaannya Sat Binmas Polres Sidrap memberikan penyuluhan dan menghimbau kepada santri dan santriwati agar bersama-sama menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif dengan menekan tindak pidana jalanan, premanisme dan penyakit masyarakat lainnya”, ungkap AKP Syarifuddin.

Di akhir kegiatan AKP Syarifuddin. HMT menyerahkan sarana kontak berupa bola voli kepada salah satu perwakilan pelajar santri. (*)

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Luwu Timur

Potongan TBS Naik Jadi 4,5 Persen, Ketua Koperasi KIM: Petani Jangan Dijadikan Korban

Published

on

KITASULSEL—LUWU TIMUR – Kebijakan kenaikan potongan Tandan Buah Segar (TBS) yang diterapkan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Teguh Wira Pratama (TWP) menuai sorotan keras dari kalangan petani sawit. Potongan yang sebelumnya berada pada kisaran 2,5 hingga 3,5 persen kini disebut telah meningkat menjadi 4,5 persen, sehingga dinilai semakin membebani petani.

Ketua Koperasi KIM, Mudatsir Musmian, secara tegas mengecam kebijakan tersebut karena dianggap tidak memiliki dasar yang jelas dan bertentangan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan petani sawit.

Menurut Mudatsir, pemerintah pusat saat ini tengah mendorong perbaikan tata niaga dan peningkatan pendapatan petani melalui berbagai kebijakan strategis. Namun, di saat harga sawit mulai menunjukkan perbaikan, justru muncul kebijakan kenaikan potongan yang dinilai merugikan petani.

“Kami sangat menyayangkan keputusan PKS PT TWP yang menaikkan potongan TBS hingga 4,5 persen. Sampai hari ini, pihak pabrik tidak pernah menyampaikan secara terbuka dasar perhitungan maupun landasan kebijakan tersebut kepada petani maupun mitra koperasi,” tegas Mudatsir, Selasa (10/6/2026).

Ia menjelaskan, selama ini potongan TBS yang diberlakukan masih berada pada kisaran 2,5 hingga 3,5 persen. Namun, kenaikan menjadi 4,5 persen dianggap tidak wajar karena tidak disertai transparansi dan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Kenaikan ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan petani. Jangan sampai muncul anggapan bahwa kebijakan ini hanya akal-akalan untuk mengurangi harga yang diterima petani. Sebab, ketika harga sawit mulai membaik, justru potongan dinaikkan tanpa penjelasan yang jelas,” ujarnya.

Sebagai organisasi yang bermitra langsung dengan petani sawit, Koperasi KIM menyatakan keberatan atas kebijakan tersebut dan meminta agar setiap perubahan yang berdampak terhadap pendapatan petani dilakukan secara terbuka serta berdasarkan aturan yang jelas.

Mudatsir menilai kenaikan potongan sebesar 4,5 persen akan berdampak langsung terhadap berkurangnya pendapatan petani. Kondisi ini dinilai semakin memberatkan karena petani saat ini juga menghadapi tingginya biaya produksi, mulai dari harga pupuk, biaya perawatan kebun, hingga biaya operasional panen.

“Kebijakan ini sangat merugikan petani. Jika memang ada alasan teknis atau regulasi yang menjadi dasar kenaikan potongan, maka pihak pabrik wajib menyampaikan secara terbuka kepada publik. Transparansi adalah hal yang sangat penting agar tidak menimbulkan kecurigaan dan keresahan di kalangan petani,” katanya.

Koperasi KIM juga mendesak manajemen PKS PT TWP untuk segera memberikan penjelasan resmi terkait dasar hukum, metode perhitungan, serta alasan kenaikan potongan TBS tersebut. Selain itu, pihaknya meminta pemerintah daerah dan instansi terkait untuk melakukan pengawasan serta evaluasi terhadap kebijakan yang dinilai berpotensi merugikan petani.

“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah daerah dan instansi terkait agar hak-hak petani tetap terlindungi. Jangan sampai petani menjadi pihak yang selalu menanggung beban dari setiap kebijakan yang tidak transparan,” tutup Mudatsir.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PKS PT Teguh Wira Pratama (TWP) belum memberikan keterangan resmi terkait alasan kenaikan potongan TBS hingga 4,5 persen tersebut.

Continue Reading

Trending