Connect with us

Gubernur Andi Sudirman Bersama Masyarakat Jalan Sulsel Anti Mager di Enrekang

Published

on

Kitasulsel—ENREKANG-Masyarakat Kabupaten Enrekang begitu antusias mengikuti kegiatan jalan sehat Sulsel Anti Mager di Anjungan Sungai Mata Allo, Enrekang, Sabtu 25 Februari 2023.

Terlebih para peserta dilepas dan diikuti langsung oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman.

Turut hadir Bupati Enrekang, Muslimin Bando; Wakil Bupati Enrekang, Asman; jajaran Forkopimda Enrekang.

“Alhamdulillah, pagi ini kami bersama Bupati dan Wakil Bupati, serta masyarakat Enrekang jalan pagi Sulsel Anti Mager di Enrekang. Kami sangat senang dengan semangat para peserta di Bumi Massenrempulu,” kata Gubernur Andi Sudirman.

Dirinya berharap kegiatan Anti Mager ini terus digeliatkan dan menjadi kebiasaan masyarakat dalam menjaga pola hidup sehat.

“Pastikan 10 ribu langkah ta setiap hari, Mari ki’ wujudkan Sulsel Anti Mager,” pintanya.

Sementara itu, salah satu peserta Sulsel Anti Mager di Enrekang, Misna mengaku, senang dengan kegiatan yang digalakkan oleh orang nomor satu di Sulsel itu.

“Senang, semangat. Bagus gerakan Sulsel Anti Mager yang dicanangkan Pak Gubernur. Kita harus terus bergerak. Senang juga bisa ketemu dengan pak Gubernur,” ungkap perempuan berusia 32 tahun itu.

Dalam memeriahkan pelaksanaan Sulsel Anti Mager ini, disiapkan sejumlah hadiah. Dengan hadiah utama berupa motor. (*)

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Luwu Timur

Potongan TBS Naik Jadi 4,5 Persen, Ketua Koperasi KIM: Petani Jangan Dijadikan Korban

Published

on

KITASULSEL—LUWU TIMUR – Kebijakan kenaikan potongan Tandan Buah Segar (TBS) yang diterapkan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Teguh Wira Pratama (TWP) menuai sorotan keras dari kalangan petani sawit. Potongan yang sebelumnya berada pada kisaran 2,5 hingga 3,5 persen kini disebut telah meningkat menjadi 4,5 persen, sehingga dinilai semakin membebani petani.

Ketua Koperasi KIM, Mudatsir Musmian, secara tegas mengecam kebijakan tersebut karena dianggap tidak memiliki dasar yang jelas dan bertentangan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan petani sawit.

Menurut Mudatsir, pemerintah pusat saat ini tengah mendorong perbaikan tata niaga dan peningkatan pendapatan petani melalui berbagai kebijakan strategis. Namun, di saat harga sawit mulai menunjukkan perbaikan, justru muncul kebijakan kenaikan potongan yang dinilai merugikan petani.

“Kami sangat menyayangkan keputusan PKS PT TWP yang menaikkan potongan TBS hingga 4,5 persen. Sampai hari ini, pihak pabrik tidak pernah menyampaikan secara terbuka dasar perhitungan maupun landasan kebijakan tersebut kepada petani maupun mitra koperasi,” tegas Mudatsir, Selasa (10/6/2026).

Ia menjelaskan, selama ini potongan TBS yang diberlakukan masih berada pada kisaran 2,5 hingga 3,5 persen. Namun, kenaikan menjadi 4,5 persen dianggap tidak wajar karena tidak disertai transparansi dan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Kenaikan ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan petani. Jangan sampai muncul anggapan bahwa kebijakan ini hanya akal-akalan untuk mengurangi harga yang diterima petani. Sebab, ketika harga sawit mulai membaik, justru potongan dinaikkan tanpa penjelasan yang jelas,” ujarnya.

Sebagai organisasi yang bermitra langsung dengan petani sawit, Koperasi KIM menyatakan keberatan atas kebijakan tersebut dan meminta agar setiap perubahan yang berdampak terhadap pendapatan petani dilakukan secara terbuka serta berdasarkan aturan yang jelas.

Mudatsir menilai kenaikan potongan sebesar 4,5 persen akan berdampak langsung terhadap berkurangnya pendapatan petani. Kondisi ini dinilai semakin memberatkan karena petani saat ini juga menghadapi tingginya biaya produksi, mulai dari harga pupuk, biaya perawatan kebun, hingga biaya operasional panen.

“Kebijakan ini sangat merugikan petani. Jika memang ada alasan teknis atau regulasi yang menjadi dasar kenaikan potongan, maka pihak pabrik wajib menyampaikan secara terbuka kepada publik. Transparansi adalah hal yang sangat penting agar tidak menimbulkan kecurigaan dan keresahan di kalangan petani,” katanya.

Koperasi KIM juga mendesak manajemen PKS PT TWP untuk segera memberikan penjelasan resmi terkait dasar hukum, metode perhitungan, serta alasan kenaikan potongan TBS tersebut. Selain itu, pihaknya meminta pemerintah daerah dan instansi terkait untuk melakukan pengawasan serta evaluasi terhadap kebijakan yang dinilai berpotensi merugikan petani.

“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah daerah dan instansi terkait agar hak-hak petani tetap terlindungi. Jangan sampai petani menjadi pihak yang selalu menanggung beban dari setiap kebijakan yang tidak transparan,” tutup Mudatsir.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PKS PT Teguh Wira Pratama (TWP) belum memberikan keterangan resmi terkait alasan kenaikan potongan TBS hingga 4,5 persen tersebut.

Continue Reading

Trending