Connect with us

Awasi Kebersihan Wilayah, Camat Rappocini Gelar Rakor Bersama Anggota Pakandatto

Published

on

Kitasulsel, Makassar—Camat Rappocini M. Aminuddin, S.Sos., M.AP menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Pakandatto (Pasukan Penindakan Anti Kotor) di Aula Emmy Saelan lt. 3 Kantor Kecamatan Rappocini, Jl. Teduh Bersinar No. 9 Makassar, Senin (06/02/2023).

Turut hadir Kepala Seksi dan Kasubag Kecamatan Rappocini, Para Lurah se-Kecamatan Rappocini, Koordinator Pakandatto Muhammad Akil Djamaluddin dan Para Anggota Pakandatto se-Kecamatan Rappocini.

Dalam rakor tersebut, Aminuddin memberikan arahan kepada para Anggota Pakandatto untuk meningkatkan tugas-tugas di wilayah masing-masing.

“Berikan pelayanan kepada warga Yang ramah dan baik serta tingkatkan pengawasan kebersihan di wilayahta, ajakki Pj RT/RW untuk Ikut berperan didalam pengawasan wilayah” ujar Aminuddin.

Muhammad Akil dalam kesempatan tersebut mengajak Anggota Pakandatto untuk sering berkoordinasi dengan Camat dan Lurah di wilayah masing-masing.

“Pakandatto adalah saudarata Pak Camat, Pakandatto adalah sahabat buat Lurah.Jadi kalau ada masalah kebersihan disampaikan teman-teman Anggota Pakandatto mohon untuk ditindak lanjuti karena Itulah salah satu penilaian kinerja teman-teman Lurah,”jelas Akil.

 

 

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Nasional

Menag Nasaruddin Umar Minta Pesparawi Nasional 2026 Padukan Kesemarakan dan Pendalaman Spiritual

Published

on

Kitasulsel–JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta agar Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Tahun 2026 tidak hanya tampil meriah secara seremonial, tetapi juga menghadirkan pendalaman spiritual yang kuat bagi seluruh peserta dan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat memberikan arahan dalam Kick Off Pesparawi Nasional XIV di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Menurut Menag, keberhasilan sebuah perhelatan keagamaan ditentukan oleh keseimbangan antara kemeriahan festival dan penghayatan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.

“Satu sisi harus ada kesemarakan, pada sisi lain juga harus ada pendalamannya. Kesemarakan tanpa penghayatan itu mubazir, tetapi penghayatan tanpa kesemarakan itu tidak meriah. Jadi dua-duanya harus berbanding lurus,” ujar Nasaruddin Umar.

Ia menjelaskan, aspek kesemarakan penting untuk menghadirkan suasana meriah yang dapat dirasakan masyarakat luas. Mulai dari hadirnya umbul-umbul, tata cahaya, pakaian seragam peserta, hingga geliat ekonomi masyarakat melalui pasar kaget dan aktivitas pendukung lainnya.

Namun demikian, Menag mengingatkan agar panitia maupun kontingen tidak larut dalam kemeriahan fisik semata. Pesparawi, kata dia, harus menjadi momentum resakralisasi kehidupan beragama sekaligus ruang untuk menyentuh dimensi batin umat.

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga mengajak para pimpinan gereja aras nasional dan tokoh lintas agama untuk terus memperkuat semangat moderasi beragama dengan menitikberatkan pada pencarian titik temu antarkelompok dan antarumat beragama.

“Moderasi beragama itu adalah biarkan yang berbeda itu tetap berbeda, dan biarkan yang sama itu sama. Toleransi sesungguhnya bukan berusaha memaksakan persamaan pada sesuatu yang berbeda, dan juga bukan memaksakan perbedaan pada sesuatu yang sebenarnya sama,” tegasnya.

Lebih lanjut, Menag mengibaratkan kemajemukan Indonesia sebagai sebuah karya seni atau lukisan kontras yang indah dan bernilai tinggi dari Tuhan. Keindahan itu lahir dari perpaduan berbagai warna dan perbedaan yang hidup berdampingan secara harmonis.

Karena itu, melalui momentum Pesparawi Nasional XIV Tahun 2026, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus merawat persatuan dan menjaga harmoni kebangsaan.

“Jangan kita mengacak-acak lukisan Tuhan bernama Indonesia ini. Justru keberagaman itulah yang membuat bangsa ini indah dan kuat,” pungkas Nasaruddin Umar.

Continue Reading

Trending