Connect with us

Camat Ujung Tanah Membuka Musrenbang Tingkat Kelurahan Camba Berua

Published

on

Kitasulsel, Makassar—Camat Ujung Tanah Ibrahim Chaidar Said.S.IP.,M.Si didampingi Lurah Camba Berua Achmad Irianto. SE dan Ketua LPM Camba Berua dan Ketua Forum LPM. Kecamatan Ujung Tanah, membuka Kegiatan Musrenbang Tingkat Kelurahan Camba Berua. Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, Senin
09 Januari 2023

Dalam Sambutanya Camat Ibrahim Chaidar Said.S.IP .M.Si Mengatakan Bahwa usulan-usulan yang di buat saat pra Musrenbang, menjadi skala prioritas,Musrenbang itu adalah bagaimana persoalan-persoalan utama yang ada dikelurahan.

“Hal itu menjadi skala prioritas, karena kita memiliki sumber daya yang terbatas,” ujarnya.

Camat Ibrahim juga menambahkan bahwa hal hal yang disepakati akan di Bawa di Musrenbang tingkat Kecamatan, dan di bawa ke Musrenbang Tingkat Kota.“jadi adapun hal-hal yang nantinya akan disepakati dalam Musrembang ini maka akan dibawa ke Tingkat Kecamatan dan kami akan bawa akhirnya ke Musrenbang Tingkat Kota

Dalam Kegiatan ini, dihadiri oleh Anggota DPRD Kota Makassar DAPIL II H. Rahmat Taqwa Qurais Ketua Komisi A. Bappeda Kota Makassar sebagai Narasumber Dinas PU, Dinas Perhubungan, Kesbangpol, Perusda Kota Makassar, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemud,.Ketua LPM Kelurahan Camba Berua dan RT/RW Kelurahan Camba Berua.(Andis)

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

DISKOMINFO KAB SIDRAP

Target 1 Juta Ton Gabah, IP 300 di Sidrap Jadi Proyek Ekonomi Strategis

Published

on

Kitasulsel–SIDRAP Target produksi 1 juta ton gabah melalui program IP 300 (Indeks Pertanaman 300) di Kabupaten Sidenreng Rappang atau Sidrap tidak lagi sekadar dipandang sebagai ambisi sektor pertanian. Lebih dari itu, program ini mulai dilihat sebagai proyek ekonomi strategis yang berpotensi menggerakkan berbagai sektor.

Melalui pola tanam tiga kali setahun di lahan yang sama, IP 300 menciptakan intensitas produksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan pola tanam konvensional. Dampaknya, perputaran ekonomi di tingkat petani dan pelaku usaha pendukung ikut meningkat signifikan.

Jika sebelumnya perputaran uang hanya terjadi sekali dalam satu musim tanam, kini bisa berlangsung hingga tiga kali dalam setahun. Artinya, peningkatan tidak hanya terjadi pada volume produksi, tetapi juga pada nilai ekonomi yang dihasilkan.

Ketika target 1 juta ton gabah tercapai, efeknya meluas ke berbagai lini. Mulai dari pedagang gabah yang mendapatkan pasokan stabil, penggilingan padi yang beroperasi lebih intens, distribusi beras yang meningkat, hingga sektor transportasi yang ikut terdongkrak.

Fenomena ini menciptakan efek domino ekonomi yang menjadikan sektor pertanian sebagai penggerak utama aktivitas bisnis di daerah.

Namun demikian, di balik potensi besar tersebut, terdapat tantangan serius yang perlu diantisipasi. Produksi yang melimpah tanpa pengelolaan pasar yang baik justru berisiko menekan harga gabah di tingkat petani.

Kondisi ini dapat menjadi bumerang, di mana petani yang diharapkan memperoleh keuntungan justru mengalami kerugian akibat anjloknya harga saat panen raya terjadi secara bersamaan.

Oleh karena itu, keberhasilan program IP 300 tidak hanya ditentukan dari sisi hulu atau produksi, tetapi juga sangat bergantung pada penguatan sektor hilir. Mulai dari kepastian penyerapan gabah, stabilitas harga, hingga strategi distribusi menjadi faktor kunci.

Pemerintah daerah pun mulai mengantisipasi hal tersebut dengan mendorong penguatan ekosistem bisnis pertanian. Pengembangan penggilingan modern, pembangunan gudang penyimpanan, serta perluasan akses pasar menjadi bagian penting dari strategi yang disiapkan.

Langkah ini diharapkan mampu menempatkan petani tidak hanya sebagai produsen, tetapi juga sebagai bagian dari rantai nilai yang lebih menguntungkan.

Di sisi lain, peluang juga terbuka lebar. Dengan produksi yang tinggi dan stabil, Sidrap berpotensi menjadi pemasok utama beras untuk pasar antar daerah hingga skala nasional.

Hal ini menjadikan sektor pertanian di Sidrap tidak lagi sekadar aktivitas produksi, tetapi berkembang menjadi aset ekonomi strategis daerah.

Meski demikian, implementasi IP 300 menuntut konsistensi dan kesiapan yang tidak ringan. Kebutuhan modal yang lebih besar, intensitas kerja yang tinggi, serta risiko yang meningkat menjadi tantangan tersendiri bagi petani.

Tidak semua petani dapat langsung beradaptasi dengan pola ini, sehingga peran pemerintah menjadi krusial dalam memastikan program berjalan inklusif dan memberikan manfaat nyata.

Selama ini, Sulawesi Selatan dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional, dengan Sidrap sebagai salah satu kontributor utamanya. Kini, melalui IP 300, daerah tersebut berupaya naik kelas dari sekadar penghasil menjadi penggerak ekonomi berbasis pangan.

Jika dikelola dengan baik, program ini tidak hanya menjadi kisah sukses pertanian, tetapi juga model bisnis baru berbasis desa. Namun sebaliknya, tanpa pengelolaan yang tepat, produksi besar justru berpotensi menjadi beban baru bagi petani.

Pada akhirnya, keberhasilan IP 300 tidak hanya diukur dari seberapa banyak gabah yang dihasilkan, tetapi dari seberapa besar nilai ekonomi yang mampu diciptakan dan dinikmati oleh para pelaku utamanya.

Continue Reading

Trending